KAJIAN UKMPR: Hijau Belum Tentu Sehat: Kajian Biologis Kandungan Logam Berat Pada Sayuran di Pasar Tradisional
[KAJIAN UKMPR]
Salam Riset!!! Sukses!!!
Halo guys, kajian UKMPR kembali hadir menyapa kalian. Kali ini ada kajian menarik dengan judul:
Hijau Belum Tentu Sehat: Kajian Biologis Kandungan Logam Berat Pada Sayuran di Pasar Tradisional
Nama: M. Fajar Shidiq
Jurusan: Biologi
Angkatan: 2023
Yuk disimak!
Semoga bermanfaat
Menjaga kesehatan diri merupakan sebuah kewajiban agar kita bisa menjalani hari-hari kehidupan dengan penuh semangat dan bahagia. Menjaga kesehatan diri tidak hanya dengan olahraga saja, namun diperlukan dengan mengonsumsi makanan yang sehat seperti buah dan sayuran. Mengonsumsi buah-buahan dan sayuran adalah cara yang baik untuk mewujudkan gaya hidup yang sehat (Utami & Saputra., 2017). Sayuran yang paling sering di konsumsi manusia biasanya bayam hijau, kangkung, bayam merah, kubis, selada dan sawi. Pasar tradisional merupakan tempat pembelian yang paling sering dikunjungi oleh semua orang.
Gambar 1 Pasar Tradisional
Pasar tradisional sendiri memiliki beberapa kekurangan dan kelemahan seperti kumuh dan kotor, serta kemasan produk yang dijual kurang menarik (Saoda & Malia., 2017). Masih banyak konsumen yang melakukan pembelian di pasar tradisional, hal ini dikarenakan mudah di akses, harga terjangkau, keberagaman produk dan dapat tawar menawar. Dibalik kekurangan dan kelemahan dari pasar tradisional, tentunya ada kelebihannya tersendiri serta masih banyak juga para penjual yang peduli akan kebersihan lingkungan sekitar dan barang yang mereka jual.
Gambar 2 Logam Berat
Logam berat merupakan unsur logam dengan massa jenis tinggi (secara umum lebih dari 5 g/cm3) dan bersifat toksik pada makhluk hidup. Logam berat tidak dapat terurai secara biologis sehingga cenderung terakumulasi di lingkungan dan dalam jaringan makhluk hidup melalui rantai makanan. Logam berat terbagi menjadi dua jenis, yaitu logam berat esensial dan logam berat non esensial. Logam berat esensial yaitu logam berat yang penting dan dibutuhkan oleh makhluk hidup, seperti Zn, Fe, Mn, Ni, dan sebagainya. Sedangkan logam berat non esensial adalah logam berat yang berbahaya bagi makhluk hidup dan bersifat toksik, seperti Hg, Pb, Cd, dan sebagainya (Boymau., 2023). Salah satu logam berat yang paling sering dijumpai pada lahan pertanian adalah Kadmium (Permana & Andhikawati., 2022). Mengonsumsi logam berat dalam jangka Panjang dapat menimbulkan masalah kesehatan yang cukup serius.
Logam berat dapat masuk pada sayuran itu karena tidak jauh dari ulah tangan manusia sendiri. Sumber cadmium (Cd) berasal dari penggunaan bahan bakar, pembakaran kayu, serta penggunaan pupuk kendang dan pestisida (Wamaulana et al., 2022). Sumber lain yaitu limbah industri. Limbah industri yang tidak diolah dengan baik kemungkinan besar dapat menyebabkan sisa logam berat masuk mencemari lingkungan. Logam berat dapat mencemari lingkungan baik melalui tanah, air maupun udara (Dewi., 2022). Gambaran alur limbah industri hingga ke tubuh manusia sebagai berikut: Pabrik/Limbah industri ⟶ Sungai/Irigasi ⟶ Tanah ⟶ Akar Tanaman ⟶ Daun Sayuran ⟶ Masuk ke tubuh manusia.
Gambar 3 Sprektroskopi Serapan Atom (SSA)
Ada bebera cara untuk mengetahui apakah sayuran yang kita beli di pasar tradisional itu mengandung logam berat atau tidak. Pertama yaitu dengan menggunakan metode Sprektroskopi Serapan Atom (SSA). Cara kerja dari metode pertama ini adalah sampel sayur dikeringkan, kemudian dibakar/dihancurkan, setelah hancur kemudian ditambahkan larutan asam (biasanya HNO3) dan larutan tersebut akan di analisis oleh alat SSA tersebut. Keuntungan dari metode ini adalah memiliki kepekaan yang tinggi batas deteksi yakni kurang dari 11 ppm, sehingga sangat tepat untuk menganalisis zat pada konsentrasi rendah (Situmorang & Simatupang., 2021). Kekurangan metode pertama ini adalah dibutuhkannya alat mahal dan laboratorium yang lengkap dan tidak bisa dilakukan sendiri tanpa izin/akses lab.
Gambar 4 Test Kit Logam Berat
Cara kedua untuk mengetahui adanya logam berat pada sayuran yang akan kita konsumsi adalah dengan menggunakan metode Test Kit Logam Berat. Cara yang kedua ini merupakan solusi yang cepat dan praktis. Singkatnya cara kerja dari test kit ini adalah sayuran di ekstrak terlebih dahulu (dihancurkan kemudian ditambahi akuades), langkah berikutnya adalah larutan tersebut ditetesi atau di reaksikan dengan larutan kit, amati perubahan warna yang terjadi dan kemudian di cocokkan dengan skala warna (Afrilla & Puspikawati., 2021). Kelebihan dari metode ini adalah praktis, tidak memerlukan alat yang canggih, namun kekurangan dari alat ini adalah hanya untuk deteksi awal dan tidak se akurat metode pertama yaitu Sprektroskopi Serapan Atom (SSA).
Kadar logam berat timbal (Pb) dan cadmium (Cd) salah satu problem utama lingkungan makhluk hidup. Logam berat tersebut dapat mencemari lahan pertanian sehingga mengakibatkan cekaman/stress pada tanaman. Stress tanaman yang diakibatkan oleh logam berat tiga kali lebih besar dibandingkan dengan pestisida. Maka dari itu untuk mengurangi logam berat pada sayuran yang akan kita konsumsi, alangkah baiknya dicuci terlebih dahulu dengan air yang mengalir dan perebusan untuk meminimalisir logam berat pada sayuran. Semakin lama pencucian dan perebusan, maka kadar logam berat semakin berkurang (Pramudita., 2019).
Perlunya pengetahuan dan kesadaran yang tinggi pada diri kita untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada lingkungan sekitar kita, yang benar belum tentu benar dan yang salah belum tentu salah. Sebelum mengonsumsi makanan salah satunya sayuran alangkah baiknya kita dengan bersih menggunakan air mengalir dan dimasak dengan baik untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan, karena kita tidak tahu apakah sayuran tersebut akan mendatangkan manfaat ataupun sebaliknya.
Semoga dapat terus menginspirasi 😁
=======================
KABINET AMARACITA!
SINERGI TANPA HENTI!
Jangan lupa staytune terus medsos UKMPR yaa✨🤗
📱Fanspage fb : Ukmpr Unsoed
📱Instagram : @ukmpr.unsoed
📱Line : @pvg0902f
📱Blog : ukm-penalaranriset.blogspot.co.id
📱Youtube : UKMPR UNSOED
📱Tik Tok: unsoed.ukmpr
📱Telechanel: @ukmpr.unsoed
📱Telebot: @ukmprunsoed_bot
Salam Riset!!! Sukses!!!
#UKMPR #kabinetamaracita #unsoed #purwokerto
DAFTAR PUSTAKA
Afrilla, O. & Puspikawati, S. I., 2021. UJI KANDUNGAN PENCEMARAN TIMBAL PADA HASIL LAUT DI KABUPATEN BANYUWANGI TEST OF LEAD POLLUTION CONTENT IN SEA PRODUCTS IN BANYUWANGI REGENCY. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 17(2), pp. 59-65.
Boymau, I., 2023. Distribusi Logam Berat pada Tanah. ULIL ALBAB: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(3), pp. 927-932.
Dewi, E. R., 2022. Analisis cemaran logam berat arsen, timbal, dan merkuri pada makanan di wilayah kota surabaya dan kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 18(1), pp. 1-9.
Permana, R. & Andhikawati, A., 2022. METALLOTIONEIN PADA TANAMAN AKUATIK DAN PERANANNYA DALAM AKUMULASI LOGAM BERAT. Jurnal Akuatek, 3(1), pp.1-8.
Pramudita, T., 2019. Pengaruh Variasi Pengolahan Daun dan Buah Kacang Panjang Terhadap Kadar Logam Berat Pb dan Cd Serta Sosialisasi Penanganan Sayuran Tercemar Sebagai Sumber Belajar. BIOEDUKASI: Jurnal Pendidikan Biologi, 10(1), pp. 45-54.
Saodah, D.S. & Malia, R., 2017. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam pembelian sayuran di Pasar Tradisional (Studi Kasus Pasar Muka Cianjur). Jurnal Agroscience, 7(1), pp. 178-193.
Situmorang, M. & Simatupang, D. F., 2021. Analisis Logam Berat Pada Sayuran Yang Ditanami Di Pinggir Jalan Bekasi Utara. Jurnal Analis Laboratorium Medik, 6(1), pp. 19-22.
Utami, R. P. & Saputra, H., 2017. Pengaruh harga dan kualitas produk terhadap minat beli sayuran organik di pasar sambas Medan. Jurnal Niagawan, 6(2), pp. 44-53.
Wamaulana, F., Hasyimuddin, H. & Fakhruddin, A., 2022. Analisis logam berat kadmium (Cd) pada sampel pangan segar asal tumbuhan (PSAT) di BBKP Makassar. Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi, 2(2), 53-58.
Komentar
Posting Komentar